Yen Turun di Tengah Suasana Risiko, Fokus pada Keputusan Suku Bunga BoJ
Pada sesi Asia hari Senin, nilai yen Jepang melemah terhadap mata uang utama karena para investor menunjukkan sikap lebih berani mengambil risiko. Suasana ini didorong oleh kenaikan pesat saham energi dan pertambangan, seiring dengan melonjaknya harga komoditas akibat peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Meskipun demikian, kekhawatiran bahwa ketegangan politik tersebut bisa memicu konflik skala penuh di Timur Tengah terus menghantui pasar.
Para trader kini mengarahkan perhatian mereka pada pertemuan kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) dan Komite Pasar Terbuka Federal AS (FOMC) pekan ini, demi mendapatkan petunjuk mengenai prospek kebijakan di masa depan serta dorongan baru bagi pasar.
Mayoritas ahli memperkirakan BoJ akan mempertahankan suku bunga acuan pada 0,5 persen dalam pertemuan bulan Juni, meskipun ada beberapa ekonom yang memproyeksikan kenaikan pada awal 2026.
Selama sesi Asia hari ini, yen turun mendekati posisi terendah dalam setahun, mencapai 167,22 per euro dan 178,10 per franc Swiss, dibandingkan dengan penutupan minggu lalu yang masing-masing mencapai 166,46 dan 177,62. Jika tren penurunan ini berlanjut, kemungkinan yen akan menemukan support sekitar 169,00 per euro dan 179,00 per franc.
Terhadap pound sterling dan dolar AS, yen jatuh ke level terendah lima hari masing-masing sebesar 196,18 dan 144,61 dari penutupan hari Jumat yang masing-masing berada di 195,47 dan 144,10. Level support berikutnya diperkirakan berada di 198,00 untuk pound dan 148,00 untuk dolar.
Kedepannya, para pelaku pasar menantikan rilis data penting, termasuk data permulaan perumahan di Kanada untuk bulan Mei, indeks manufaktur New York Empire State untuk bulan Juni, serta laporan NOPA crush AS, yang semuanya dijadwalkan rilis dalam sesi New York.
